Pemetaan Sosial Kelompok 315

Pemetaan sosial (Social Mapping) merupakan suatu upaya mengidentifikasi dan memahami struktur sosial (sistem kelembagaan dan individu) tata hubungan antar lembaga atau antara individu dengan lingkungan sosial tertentu. Identifikasi tata hubungan inilah yang disebut dengan pemetaan atau mapping yang memberikan gambaran posisi pranata terhadap lembaga lain didalam komunitas tersebut.

skema

DESKRIPSI PENJELASAN :

Sektor perkebunan menjadi salah satu sumber penting dalam kesejahteraan masyarakat di Indonesia secara global. Pedesaan seakan menjadi sasaran yang tepat untuk menjaga produktifitas lahan ataupun  hasil dari perkebunan. Pembangunan dibidang perkebunan merupakan suatu upaya dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional. Namun dalam kenyataannya, berbagai keluhan pun datang dari berbagai daerah yang menjadi kawasan perkebunan, salah satunya para petani dari Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar yang sedang memperjuangkan haknya atas lahan milik negara dengan menempuh berbagai prosedur secara terstruktur.

1

Wilayah perkebunan yang menjadi fokus garapan dari kelompok KKN 315 merupakan lahan milik negara yang berada di wilayah Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman Kota Banjar. Luas lahan tersebut kurang lebih sekitar 350 Ha, adapun lahan yang telah berhasil digarap oleh para petani diperkirakan sekitar 20 Ha. Penggarapan lahan pertanian ini masih terbilang baru, karena penggarapan lahan ini baru berjalan kurang lebih selama 6 bulan. Jumlah petani yang melakukan penggarapan pada perkebunan ini adalah sebanyak 60 orang, dalam pengelolaan perkebunan. Dalam sistem pengelolaan lahan garapan, para petani diberikan kebebasan untuk membuka luas lahan sebanyak yang mereka mampu, akan tetapi tidak lepas dari prosedur yang ada. Adapun jenis tanaman yang telah mulai ditanam oleh para petani dilahan perkebunan ini adalah Jagung, Kacang tanah, dan Kentang.

Dalam perkebunan ini, ada beberapa point penting yang berhubungan erat dan menjadi penjelasan mengenai perkebunan. Beberapa point penting tersebut, antara lain:

  1. Lapangan Pekerjaan Petani

Lahan perkebunan merupakan salah satu objek dari bentuk pemberdayaan masyarakat terutama bagi para petani yang berada di Desa Sinartanjung. Sebagian besar, para petani yang menggarap lahan tersebut, pada umumnya para petani menggantungkan kehidupanya pada perkebunan.

  1. Pengelolaan lahan

Ada beberapa tahap proses yang dilakukan oleh para petani dalam pengelolaan lahan pertanian ini, beberapa tahapan tersebut antara lain:

Tahap pembukaan lahan

Proses ini merupakan tahapan awal yang dilakukan oleh para petani untuk membuka lahan yang awalnya tidak produktif berupa hutan, menjadi lahan siap tanam berbagai jenis tanaman. Dalam proses pembukaan lahan ini, petani setidaknya memerlukan biaya sekitar Rp. 7.000.000.00,- / Ha tanah yang digarap sehingga menjadi produktif.

Tahap pengelolaan tanaman

Tahapan ini, mencakup beberapa proses seperti pembibitan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan dan pemanenan. Diperkirakan, biaya yang digunakan untuk satu hektar dalam proses pengelolaan tanah adalah sekitar Rp. 6.000.000.00,-

  1. Hasil pertanian

Hasil pertanian, merupakan output dari setiap jenis tanaman yang ditanam. Untuk hasil jual yang didapatkan dari setiap hektar lahannya sekitar Rp. 24.000.000.00,- dan bila dihitung berdasarkan omset yang didapatkan oleh para petani, dari setiap hektarnya sekitar Rp. 11.000.000.00,- /kali panen. Apabila hasil penjualan tersebut telah dikurangi dengan biaya produksi yang digunakan dalam penggarapan lahan. Dalam hal pemasaran, untuk tanaman kacang tanah, biasanya para petani hanya menjualnya secara langsung ke pasar atau dilingkungan masyarakat sekitar, sedangkan untuk para petani yang memiliki tanaman jagung yang berskala besar, hasilnya dijual ke pihak SPP selaku organisasi pertanian yang menaungi masyarakat yang menggarap lahan pertanian tersebut.

  1. Permasalahan Lahan Pertanian

Legalitas Tanah perkebunan

Terkait mengenai masalah legalitas tanah perkebunan ini, merupakan salah satu sumber permasalahan yang sangat krusial dan masih belum menemukan solusi yang tepat dari berbagai pihak. Pada awalnya, lahan ini merupakan tanah milik negara yang dikelola oleh pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN), namun pada tahun 1997 kontrak yang dimiliki oleh PTPN telah habis, dan secara otomatis lahan tersebut telah terbebas dari kontrak dan berakhir masa hak guna usahanya, berdasarkan alasan tersebut, para petani berupaya untuk mendapatkan hak garapan tersebut, karena para petani menyadari bahwa apabila tanah milik negara yang tidak ada Hak Guna Usahanya, itu menjadi hak komunal masyarakat untuk menggarapnya. Hal tersebut menyebabkan terjadinya permasalahan mengenai pengelolaan tanah tersebut. Maka dari permasalahan tersebut, para petani meminta kepada SPP (Serikat Petani Pasundan) sebagai suatu lembaga yang dijadikan perlindungan hukum oleh para petani. Melalui lembaga SPP inilah para petani memperjuangkan hak pengelolaan terhadap tanah milik negara yang dijadikan lahan garapan perkebunan tersebut untuk mereka kelola.

7

  • Persetujuan Pemamfaatan Lahan menjadi Tempat Wisata

Selain mengenai legalitas tanah garapan, persetujuan pemberdayaan lahan yang akan dijadikan tempat wisata menjadi masalah yang masih belum bisa diselesaikan karena belum ada tanggapan yang pasti dari semua pihak yang terkait dalam pelaksanaan rencana ini. Pihak pertanian mempunyai konsep mengenai pemberdayaan lahan yang diaanggap kurang produktif ini untuk dijadikan sebagai objek wisata. Adapun betuk wisata yang direncanakan tersebut adalah penangkaran buaya dan agrowisata. Perencanaan mengenai pemanfaatan mengenai lahan tersebut menjadi tempat wisata ini dilandasi oleh beberapa alasan yang sangat memungkinkan guna terbentuknya tempat wisata dilokasi itu, beberapa alasan tersebut antara lain yaitu karena letak geografis tempat dan pembangunan ekonomi yang akan dihasilkan.

4

Jika melihat kepada tata letak lokasi yang direncanakan untuk dijadikan tempat wisata, ada beberapa faktor yang sangat logis untuk dijadikan alasan mengapa lokasi ini sangat bagus bila dimanfaatkan menjadi tempat pariwisata, beberapa faktor tersebut antara lain letak lokasi dengan jalan raya provinsi jawa barat dan jawa tengah yang sangat dekat, yaitu hanya berjarak sekitar 500 M. kemudian apabila dilihat peta daerah, lokasi ini berada didaerah yang dihimpit oleh beberapa lokasi pariwisata lain yang akan membuat lokasi wisata ini dapat menjadi bentuk transit maupun tujuan langsung berwisata bagi para wisatawan.

Pemaparan diatas mendeskripsikan semua point penting yang berhubungan dengan lahan perkebunan. Adapun beberapa point yang berkaitan dengan lahan perkebunan ini antara lain:

  1. Pemberdayaan Masyarakat secara luas
  2. Hak dan kewajiban para petani yang terbelenggu
  3. Kesejahtraan Masyarakat yang didominasi oleh petani
  4. Inovasi Pemberdayaan Lahan menjadi Tempat Wisata menjadikan salah satu langkah kemajuan ekonomi masyarakat.

(Penulis      : (Abdul Rohman, Dinda Jihan, Fahmi Naufal, 315)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s