Pemetaan Sosial Kelompok 205

PERTANIAN DAN ARGOBISNIS

Dalam pemetaan sosial di RW 06  mahasiswa KKN melakukan survei lapangan dan wawancara ke beberapa narasumber yaitu Ketua Gapoktan, KWT, RW dan RT dengan fokus pertanian atau agribisnis. Fokus tersebut terbentuk berdasarkan potensi yang dimiliki desa Sinartanjung dan RW 06 dengan luas lahan pertanian 84 Ha.

jpeg-oke

Melihat potensi di atas, kami memecah tim menjadi enam bagian untuk melakukan skema wawancara ke beberapa narasumber seperti ketua RW 06, ketua RT, ketua KWT, ketua Gapoktan, dan juga beberapa petani setempat. Penggalian informasi awalnya hanya di fokuskan untuk menggetahui permasalahan pertanian secara umum seperti adanya lahan persawahan milik orang lain di RW 06.

Menindaklanjuti permasalahan tersebut, kami mulai melakukan diskus ataupun Braind Storming unntuk menentukan masalah lahan pesawahan dengan hak milik warga di luar RW 06 adalah permasalahan utama, ataupun bukan. Hasil hipotesa sementara tidak membuat kami puas untuk megetahui sejauh mana permasalahan yang ada di RW 06 dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup masyarakat RW 06.

Kami pun melakukan wawancara ulang bersama Ketua PPL Desa Sinartanjung, Teti Herawati. Wawancara di awali dengan pertanyaan singkat mengenai potensi Agribisnis Sinartanjung. Teti memaparkan bagaimana potensi Agribsinis Desa Sinartanjung bisa terbentuk dan apa saja langkah strategis yang akan dilakukan.

Ada beberapa kata kunci dari paparan Teti mengenai potensi dan langkah strategis Agribisnis Desa Sinartanjung. salah satunya adalah pengembangan sumber daya manusia dan pembentukan pola komunikasi antara Alam, Manusia dan juga lembaga. Berangkat dari ketiga unsur pembentuk langkah strategis, Teti mulai melakukan blusukan untuk menemui petani dan lembaga penanggung jawab pertanian guna mengetahui tingkat kedalaman suatu masalah.

Setelah melakukan wawancara singkat bersama Ketua PPL, kami kembali menggali informasi mengenai potensi sumber daya manusia Desa Sinartanjung. Seperti apa karakter masyarakatnya, apa saja kebiasaan dan pola hidup masyarakat, dan bagaimana pola pikir masyarakat Sinartanjung khususnya RW 06 bersama Ketua Gapoktan.

Setelah di diteliti lebih dalam, hipotesa sementara mengenai lahan garapan milik warga di luar RW 06 ternyata bukan permasalahan utama. Akar permasalahan tumbuh dari pola pikir petani dan kebiasaan hidupnya. Mencermati paparan Ketua Gapoktan, kami mulai mengarahkan obrolan dengan topik utama pola pikir masyarakat RW 06.

Berdasarkan bagan yang tertera di halaman pertama, pola pembentuk permasalahan ternyata berakar dari pola pikir petani yang sering kali berbenturan dengan Gapoktan maupun lembaga lainya. Misalnya, Gapoktan membuat peta rencana untuk menentukan cara tanam padi, pupuk yang digunakan, serta bagaimana perawatanya. Program tersebut akan membawa dampak positif jika petani paham dan mengikuti langkah-langkahnya.

Sosialisasi yang dilakukan berbagai lembaga pertanian melalui Gapoktan maupun PPL tidak diterima begitu saja oleh petani. Setelah tujuh tahun terbentuk hanya 25 % petani yang memiliki pola pikir serta kompetensi yang mumpuni di ranah pertanian. 75 % sisanya hanya mengandalkan ego tanpa menambah kapasitas pengetahuanya.

Kebiasaan tersebut tidak berbanding dengan ekspektasi yang dimiliki sebagian besar petani. untuk RW 06, rata-rata petani mengharapkan hasil panen yang melimpah dengan harga jual tinggi. Padahal jika di telaah lebih dalam, tidak mungkin suatu hasil panen dapat di terima di pasaran dengan harga yang relatif tinggi jika kualitas dari hasil panen itu sendiri di bawah rata-rata.

Hal tersebut justru berdampak pada ekonomi warga RW 06, dengan jumlah rata-rata 150 Kepala Keluarga. Hasilnya, Roda perputaran ekonomi di RW 06 tidak berjalan begitu pesat. Melihat peta permasalah yang mengakar ke setiap sendi kehidupan, kami mulai mencari alternatif serta potensi lain yang bisa di gali di tengah masyarakat RW 06.

Kami memutuskan untuk menggali kembali informasi seputar pertanian dengan narasumber Ketua KWT Dewi Sinta, Uu Sukaesih. Menyoal pola pikir masyarakat RW 06, Uu mengungkapkan betapa sulit untuk membuat suatu gerakan di RW 06. Ia sendiri telah melakukan skema pemberdayaaan masyarakat dan mencoba melibatkan masyarakat untuk turut berperan aktif mengolah segala potensi yang dimilikinya.

Tak jauh dari bidang Agribisnis, KWT Dewi Sinta sendiri memiliki beberapa agenda untuk mengolah hasil pangan masyarakat dan menjadikanya sebagai produk unggulan desa. seperti manisan pepaya yang dibuat anggota KWT Dewi Sinta secara swadaya.

(Hadil Umam, Robiatul Adawiyah, Rika Marsita ,Rifki Fauzi, Nurul Aisyah, 205)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s