Bercermin Ke Sinartanjung

 

BERCERMIN KE SINARTANJUNG

sapardi-djoko-damonocermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedan, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?

Sapardi Djoko Damono

Siapa saja seharusnya berhati-hati bercermin. Cermin itu apa saja, siapa saja, selalu sama saja. Butuh sadar karena cermin takkan berfungsi tatkala tiada yang sudi menghadap. Sapardi Djoko Damono meyakinkan kita cermin menyatakan sunyi, menerima saja apa yang dihadapan. Mata Sapardi Djoko Damono menerka jika cermin berbahasa, ia bertanya mengapa kau seperti kehabisan suara?” Namun barangkali benar cermin berbahasa.

Sebuah tempat, dengan upaya penyadaran yang sedemikian rupa, pun bisa dijadikan cermin yang berbicara dengan bahasa. Sebuah pasukan bersenjata nalar mencoba mengupayakan suatu wilayah menjadi cermin, untuk memandang dan dipandang. Sebuah dusun luas namun terbatas, misalnya menjadi rupa tiruan. Sinartanjung, cerminan sebuah dusun luas. Pasukan nalar, mahasiswa yang bekerja dalam kenyataan, berbekal pembacaan dan pemahaman menawarkan sejumlah nilai, kemudahan yang mungkin bermanfaat.

Sebagaimana namanya Sinartanjung menawarkan variasi makna. Agaknya desa ini tempat sinar berpancar. Sinar seperti lurus memancar sebagaimana tanjung. Mungkin sinar itu menyinari bunga tanjung, putih kekuningan dan harum. Matahari berbinar menuju tanjung. Menuju rawa-rawa kumpulan tanjung. Atau sinar dan tanjung, dua hal yang berbeda sama sekali yang kemudian bersama.

Sinartanjung begitu lurus dilalui jalan yang juga begitu lurus membujur dihadapannya. Selurus sungai mengirigasi, sebegitu lurus pararel dengan jalannnya. Indah jalan Sinartanjung dipandang tanpa harus mata waspada ke depan. Karena jalan lurusnya menjanjikan kepastian arah, menuju ke depan. Namun Sinartanjung pun adalah desa seperti desa lain. Di dalamnya ia pun memberikan tanjakan dan turunan. Desa yang juga becek tatkala hujan. Seperti itu biasanya sebuah desa terbayangkan.

Desa yang memberikan keramahan lewat senyum anak-anak, ibu, nenek, petani, orang-orang dengan santun perangai. Ketika ada berpapasan, senyuman selalu berpesan ketenangan. Siapapun aman di sini bisa merasa. Tak perlu terasa ada penolakan. Semua menerima. Desa Sinartanjung dengan beragam potensi, beragam masalah, beragam kebutuhan. Tak ubahnya desa, tempat kecil ramah namun juga tempat luas buas.

Walau ada terkesan perbedaan. Itupun hanya karena orang yang sedang bercermin tak kenal dengan wajah-wajah yang sebenarnya memastikan diri itu sama. Sinartanjung bertanya kepada dunia manapun, yang ingin bercermin padanya, jangan kehabisan suara. Puisi Sapardi Djoko Damono agaknya benar, jangan seperti kehabisan suara. Suara yang jika diteriakan akan didengar oleh Sinartanjung. Sinartanjung pun tak akan meraung, tersedan, atau terisak.

Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya. (HR. Bukhari)

Penulis : Dosen Pembimbing Lapangan Desa Sinartanjung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s